Aku seorang gadis berusia 22 tahun yang
baru lulus kuliah S1 jurusan Psikologi. Sekarang aku ingin menikmati masa
liburanku yang hanya sesaat karena setelah ini aku harus berburu pekerjaan
untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang anak kepada orang tua. Di sebuah
acara, aku memperoleh tiket perjalanan menuju negeri yang terkenal dengan Big
Ben, ya Inggris. Apakah ini sebuah keberuntungan bagiku atau perjalanan menuju
masa laluku bersamanya. Baik atau tidak, ini adalah kesempatanku yang pertama untuk
berlibur ke luar negeri asal cinta pertamaku berasal.
Tiket dan paspor berada di genggamanku. Aku
bersama sekelompok orang Indonesia yang tidak kukenal berbaris memasuki ruang
tunggu bandara. Pesawat internasional yang akan membawa diriku terbang kini
tiba.
Seat
15 C, yah ini merupakan seat favoritku di bioskop (C15), tapi untuk
sekarang aku berada di sebuah bioskop terbang yang memakan waktu lebih dari
sejam untuk menonton acara TV, membaca majalah, buku, atau mungkin tidur. Di benakku,
aku mengusir pikiran yang benar-benar menghantuiku, cinta pertamaku. Dia telah
meninggal 7 tahun yang lalu, informasi itu yang kuperoleh dari sahabatnya. Tentunya
aku tidak akan percaya bullshit seperti
itu karena aku ingin melihat bukti daripada mempercayai kata-kata. Tujuh tahun
bukanlah waktu yang lama. Aku tetap menunggu, tetapi dia tidak pernah kembali, “mungkin
bumi ini telah menelannya bulat-bulat,” pikirku. Aku beralih ke majalah yang
sedang kugenggam erat dan mulai membuka halaman per halaman untuk mencari
sesuatu yang dapat menarik perhatianku dari masa lalu cintaku dan aku tertidur.
Ketika kubuka kedua mataku, matahari pagi
yang indah menyambutku dengan cahayanya yang menyilaukan kehangatannya. Aku
meregangkan kaki dan tanganku kemudian bersiap untuk turun dari burung besi
yang membawaku. Ketika kedua kakiku menginjak tanah Inggris dan udara dingin
yang memelukku dengan erat membuatku sedikit mengigil dan segera ku berlari
menuju bandara untuk mengambil koperku. Tidak kusadari bahwa aku tersesat,
tetapi aku menemukan koperku, lalu ke melangkah keluar karena kukira gerombolan
orang itu akan menantiku di luar.
“Ah..
Damn it. I lost.”
Tiba-tiba ada yang menarik lengan kananku
dan menyeret koper hitamku. Seseorang berkulit putih, berambut pendek dan
berwarna coklat, memakai pakaian berwarna gelap, dan memiliki langkah kaki yang
mantap. Sepertinya aku pernah melihatnya dan aku mengingatnya, tetapi aku tak
bisa mengatakannya sama sekali (tip of tongue). Dengan bahasa Inggris yang
minim dan aksen yang parah, aku memberanikan diri untuk bertanya pada pria yang
membawaku.
“Wait!! Stopp!! Who are you?? Where are
you taking me like this?? I don’t even know you.”
Pria itu berhenti dan melepaskan genggaman
tangannya pada lenganku, kemudian berputar ke arahku dan berkata,
“I’m sorry. I didn’t mean it. It’s long
time no see. You grew into a mature girl now. Maybe you forgot about me. I’ll
explain to you in the car, now get in.”
Pria muda itu menjentikan jarinya dan
sebuah mobil sedan hitam datang. Supir keluar lalu menyimpan koper dan barang
bawaanku yang lainnya ke dalam bagasi dengan cepat. Aku hanya terkesima dengan
pemandangan yang belum pernah kulihat. Setelah barang-barang di dalam bagasi
mobil baru kusadari bahwa aku akan dibawa pergi oleh pria ini.
“Hey..
I didn’t say “yes” for everything, did I? Why are you doing this to me?? I lost
my tour group here, I don’t know where they are! But you kidnapped me?? Oh my..
I don’t understand, please don’t be so cold as icebox!! I will live in hotel
three star with them.”
“Lol. I’m sorry for it, sweet, but I have
no time to explain it. My house is more exclusive than the hotel. Trust me.” Balasnya
sambil tersenyum.
Aku hanya bisa mengangguk dan masuk ke
dalam mobil ketika dia membukakan pintu. Ku ingin berteriak minta tolong,
tetapi di lain sisi, aku merasa percaya pada pria ini walaupun aku belum pernah
bertemu dengan dirinya. Apa yang terjadi
sebenarnya di kota London ini? Apakah aku akan hilang selamanya di dalam kota
ini? Apakah pria ini tahu siapa aku sebenarnya? Apa yang ingin dia lakukan padaku?
(to be continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar